Selasa, 09 Februari 2010
Jumat, 24 Juli 2009
Sabtu, 18 Juli 2009
Rabu, 27 Mei 2009
Maharani, Cinta Lahir Bathin
mungkin disebut cerpen bisa, disebut novel kurang tebel, jd terserah mau disebut apa, yang penting ini adalah sedikit tulisan yang pernah saya buat 2 taun yang lalu... bagi yang tertarik untuk mendownload bisa klik link http://www.scribd.com/share/upload/12271297/1eax0bk0znzwplhnuyy0.
selamat membaca.
selamat membaca.
Jumat, 15 Mei 2009
Warna Pada Sebuah Web
Tulisan ini sebenarnya akan mencoba menampilkan bagaimana menggabungkan sisi ilmu, teknologi dan seni. Sebuah komposisi yang mungkin bagi sebagian orang adalah pelik dan mungkin bagi sebagian lagi adalah hal yang mudah. Satu point dari gabungan ketiga hal diatas yang akan saya ambil adalah bagaimana membangun warna pada sebuah web.
Saya sendiri kadang-kadang bingung dalam mengambil warna menjadi sebuah image dalam web. Apakah saya kan mengambil warna putih sebagai background? Bagaimana kalau warna backgroundnya hitam? Bagaimana tanggapan orang / lembaga yang memesan web tersebut? Bagaimana tanggapan orang yang melihat web tersebut? Bagi sebagian web developer, masalah tersebut mungkin hal yang tidak asing lagi, bahkan sebagai solusi beberapa dari mereka menyiapkan aturan konfigurasi warna sendiri, mengambil seniman-seniman sebagai konsultan, menyiapkan buku yang berisi arti dari warna-warna, dan lain sebagainya.
Warna adalah hal yang mendasar pada sebuah web. Apa sih warna itu? Bagaimana warna mempengaruhi desain sebuah web? Bagaimana warna membangun image sebuah web? Bagaimana konfigurasi warna yang cantik? Bagaimana mencampur warna sehingga memunculkan image web tersebut? Bagaimana dengan warna ini, warna itu untuk webku dan lain sebagainya, kita akan coba kupas satu persatu dalam tulisan ini.
Warna adalah bagian penting dari sebuah web. Warna adalah sesuatu rupa yang bisa mengartikan banyak hal. Warna bisa menjadikan cantik, indah, suram, ceria, serius, dan lain sebagainya.
Untuk membangun sebuah web tentu kita harus mengetahui warna yang menjadi warna dasar. Namun ada beberapa versi yang menjelaskan apa saja warna dasar tersebut. Bagi seniman warna terbagi tiga yaitu :
1. Warna dasar, adalah hitam, putih, merah, biru dan kuning.
2. Warna sekunder, adalah pencampuran dari warna-warna dasar seperti abu-abu, ungu, coklat, hijau, jingga, dan lain sebagainya.
3. Warna tersier adalah pencampuran dari warna-warna sekunder.
Dan sekarang ini seiring dengan perkembangan zaman, kita biasa mengklasikasikan warna berdasarkan komposisi warna-warna dasarnya, seperti :
1. Cyan, Magenta, Yellow, Black yang lebih dikenal dengan CMYK
2. Red, Green, Blue (RGB)
Aturan diatas lebih melahirkan banyak warna-warna baru, contohnya untuk warna hijau ada ghost green, grass green, forest green, kentucky green, dan lain sebagainya. Dan dalam dunia web, kita lebih umum menggunakan aturan RGB dengan aturan 2 digit warna merah (red), 2 digit warna hijau (green) dan 2 warna biru (blue) dengan angka dalam bentuk hexadecimal, contoh : #6699ff untuk warna baby blue.
Warna sebagai image lebih memperhatikan pada arti dari warna-warna tersebut. Satu warna memiliki banyak arti tertentu, namun satu warna tetap memiliki arti yang khusus yang tidak dimiliki warna lain, contoh :
- Merah, dapat berarti berani, cantik, serius, kejam, dan lain sebagainya.
- Biru, dapat berarti kedamaian, ketenangan, kesejukan, dan lain sebagainya.
- Kuning, dapat berarti kemegahan, keagungan, santai, ceria, dan lain sebagainya.
- Hijau dapat berarti kesuburan, kesehatan, dan lain sebagainya.
- Dan lain-lain
Untuk membangun warna pada sebuah web, kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Tema yang akan kita bangun. Untuk web yang terkesan lebih serius kita akan cenderung menggunakan warna putih, hitam, dan beberapa warna dasar lainnya. Untuk web yang sifatnya santai, untuk anak muda, warna yang cenderung digunakan adalah warna pastel, warna mencolok, dan lain sebagainya.
2. Ciri Khas dari lembaga pemesan web. Ciri khas untuk web lembaga kesehatan dapat menggunakan warna putih, hijau, dll. Untuk web institut / universitas dapat menggunakan kuning, biru, dll
3. Content web tersebut. Content web merupakan hal yang paling menentukan jenis warna yang akan kita gunakan. Jangan sampai kita menggunakan warna yang akan bertabrakan dengan content web tersebut. Contoh : untuk web yang contentnya distro, kita akan cenderung menggunakan warna dasar hitam – merah, dll
4. Pesan yang akan kita sampaikan di balik web tersebut.
5. Audience web tersebut
6. Komposisi warna.
Saya sendiri kadang-kadang bingung dalam mengambil warna menjadi sebuah image dalam web. Apakah saya kan mengambil warna putih sebagai background? Bagaimana kalau warna backgroundnya hitam? Bagaimana tanggapan orang / lembaga yang memesan web tersebut? Bagaimana tanggapan orang yang melihat web tersebut? Bagi sebagian web developer, masalah tersebut mungkin hal yang tidak asing lagi, bahkan sebagai solusi beberapa dari mereka menyiapkan aturan konfigurasi warna sendiri, mengambil seniman-seniman sebagai konsultan, menyiapkan buku yang berisi arti dari warna-warna, dan lain sebagainya.
Warna adalah hal yang mendasar pada sebuah web. Apa sih warna itu? Bagaimana warna mempengaruhi desain sebuah web? Bagaimana warna membangun image sebuah web? Bagaimana konfigurasi warna yang cantik? Bagaimana mencampur warna sehingga memunculkan image web tersebut? Bagaimana dengan warna ini, warna itu untuk webku dan lain sebagainya, kita akan coba kupas satu persatu dalam tulisan ini.
Warna adalah bagian penting dari sebuah web. Warna adalah sesuatu rupa yang bisa mengartikan banyak hal. Warna bisa menjadikan cantik, indah, suram, ceria, serius, dan lain sebagainya.
Untuk membangun sebuah web tentu kita harus mengetahui warna yang menjadi warna dasar. Namun ada beberapa versi yang menjelaskan apa saja warna dasar tersebut. Bagi seniman warna terbagi tiga yaitu :
1. Warna dasar, adalah hitam, putih, merah, biru dan kuning.
2. Warna sekunder, adalah pencampuran dari warna-warna dasar seperti abu-abu, ungu, coklat, hijau, jingga, dan lain sebagainya.
3. Warna tersier adalah pencampuran dari warna-warna sekunder.
Dan sekarang ini seiring dengan perkembangan zaman, kita biasa mengklasikasikan warna berdasarkan komposisi warna-warna dasarnya, seperti :
1. Cyan, Magenta, Yellow, Black yang lebih dikenal dengan CMYK
2. Red, Green, Blue (RGB)
Aturan diatas lebih melahirkan banyak warna-warna baru, contohnya untuk warna hijau ada ghost green, grass green, forest green, kentucky green, dan lain sebagainya. Dan dalam dunia web, kita lebih umum menggunakan aturan RGB dengan aturan 2 digit warna merah (red), 2 digit warna hijau (green) dan 2 warna biru (blue) dengan angka dalam bentuk hexadecimal, contoh : #6699ff untuk warna baby blue.
Warna sebagai image lebih memperhatikan pada arti dari warna-warna tersebut. Satu warna memiliki banyak arti tertentu, namun satu warna tetap memiliki arti yang khusus yang tidak dimiliki warna lain, contoh :
- Merah, dapat berarti berani, cantik, serius, kejam, dan lain sebagainya.
- Biru, dapat berarti kedamaian, ketenangan, kesejukan, dan lain sebagainya.
- Kuning, dapat berarti kemegahan, keagungan, santai, ceria, dan lain sebagainya.
- Hijau dapat berarti kesuburan, kesehatan, dan lain sebagainya.
- Dan lain-lain
Untuk membangun warna pada sebuah web, kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Tema yang akan kita bangun. Untuk web yang terkesan lebih serius kita akan cenderung menggunakan warna putih, hitam, dan beberapa warna dasar lainnya. Untuk web yang sifatnya santai, untuk anak muda, warna yang cenderung digunakan adalah warna pastel, warna mencolok, dan lain sebagainya.
2. Ciri Khas dari lembaga pemesan web. Ciri khas untuk web lembaga kesehatan dapat menggunakan warna putih, hijau, dll. Untuk web institut / universitas dapat menggunakan kuning, biru, dll
3. Content web tersebut. Content web merupakan hal yang paling menentukan jenis warna yang akan kita gunakan. Jangan sampai kita menggunakan warna yang akan bertabrakan dengan content web tersebut. Contoh : untuk web yang contentnya distro, kita akan cenderung menggunakan warna dasar hitam – merah, dll
4. Pesan yang akan kita sampaikan di balik web tersebut.
5. Audience web tersebut
6. Komposisi warna.
Rabu, 28 Januari 2009
Algoritma dan Pemrograman
Pendahuluan
Algoritma dan pemrograman lebih dekat dengan logika matematika karena kita lebih banyak menggunakan logika dalam merumuskan masalah sehingga menjadi data empiris yang dapat kita urutkan menjadi suatu proses pemecahan masalah yang disebut dengan system.
Isi
Dalam pelaksanaannya, urutan kerjanya dapat dibagi sebagai berikut :
1. Kenali dan rumuskan permasalahan yang ada.
2. Bagi permasalahan kedalam beberapa bagian diantaranya entitas, data proses manual,
proses yang bisa dikomputerisasi, dll.
3. Buat rancangan global proses pemecahan masalah.
4. Buat alur pemecahan masalah dengan membuat Flow Chart, DFD, ERD, dll.
5. Buat struktur system global dengan algoritma.
6. Putuskan akan dibuat dengan bahasa / aplikasi pemrograman apa?
7. Kelompokkan data yang ada sehingga bisa dibuat struktur databasenya.
8. Buat program aplikasi yang dibutuhkan.
9. Evaluasi dengan user sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelebihannya.
10. Adakan perbaikan jika terdapat kekurangan.
11. Compile program sehingga dapat digunakan oleh user.
Sedangkan dalam proses pembuatan struktur pemecahan masalah dengan algoritma, kita akan lebih sering menggunakan logika sehingga menjadi suatu alur yang menyesuaikan dengan proses empiris yang ada.
Proses empiris pada algoritma dan pemrograman dapat kita bagi ke dalam 3 jenis proses, yaitu :
1. Sekuensial (Persamaan)
Proses penyederhanaan suatu persamaan menjadi suatu variable tertentu sehingga dalam proses selanjutnya kita tidak perlu mengulangi persamaan tersebut.
Contoh :
a. Barang yang ibu beli dari pasar adalah kentang
Maka bahasa algoritmanya : barang ç kentang
b. Masukkan jumlah kentang yang ibu beli
Maka bahasa algoritmanya : input (jumlah_kentang)
c. Beritahukan jumlah kentang yang ibu beli
Maka bahasa algoritmanya : output (jumlah_kentang)
d. Ibu menggabungkan kentang yang ada di rumah dengan yang baru beli
Maka bahasa algoritmanya : jumlah_total ç jumlah_1+ jumlah_2
2. Kondisional (Pengkondisian)
Proses memilah / memisahkan proses satu dengan proses lainnya yang berbeda kondisi dan perlakuan.
Contoh : a. Jika kentangnya busuk maka harus dibuang dan yang lainnya dikupas
Maka bahasa algoritmanya :
If (kentangçbusuk)
Begin
Buang_kentang
End
Else
Begin
Kupas_kentang
End
b. Setelah dikupas, jika ada kentang yang kotor maka harus dicuci dulu
Maka bahasa algoritmanya :
If (kentangçkotor)
Begin
Cuci_kentang
End
Untuk bentuk lain selain if…, if…else… dan if…elseif…else… masih ada bentuk lainnya yaitu case of…
3. Repetisi (Pengulangan)
Proses pengulangan dengan syarat sama yang diberlakukan untuk variable tertentu. Ada 3 bentuk bahasa algoritma untuk pengulangan dengan hasil yang berbeda, yaitu :
a. For … to ….
Digunakan untuk jumlah pengulangan yang telah diketahui, contoh :
Jumlah kentang yang akan dikupas diketahui adalah 20 buah, Maka bahasa algoritmanya :
For kentang=1 to 20 then
Begin
Kupas_kentang
End
b. Repeat … until …
Digunakan untuk jumlah pengulangan belum diketahui, namun kita dapat memberikan syarat atau batasan pengulangan. Namun perlu diketahui bahwa karena syarat atau batasan diberitahukan di akhir proses maka akan ada satu proses yang dilaksanakan sebelum syarat diberlakukan, contoh :
Kentang akan dikupas sampai kentang itu habis, Maka bahasa algoritmanya :
Repeat
Kupas_kentang
Until kentang_habis
Dalam contoh diatas, satu kentang akan dikupas sebelum sistem mengecek kentangnya sudah habis atau belum.
c. While …
Digunakan untuk jumlah pengulangan belum diketahui, namun kita dapat memberikan syarat atau batasan pengulangan. Namun perlu diketahui bahwa karena syarat atau batasan diberitahukan di awal proses maka system akan mengecek dulu kondisi proses sebelum proses pertama dilakukan, contoh :
Kentang akan dikupas sampai kentang itu habis, Maka bahasa algoritmanya :
While (kentang_belum_habis)
begin
Kupas_kentang
End
Dalam contoh diatas, system akan mengecek kentangnya sudah habis atau belum. Jika belum habis maka proses dilaksanakan.
Penutup
Demikian tulisan ini semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Algoritma dan pemrograman lebih dekat dengan logika matematika karena kita lebih banyak menggunakan logika dalam merumuskan masalah sehingga menjadi data empiris yang dapat kita urutkan menjadi suatu proses pemecahan masalah yang disebut dengan system.
Isi
Dalam pelaksanaannya, urutan kerjanya dapat dibagi sebagai berikut :
1. Kenali dan rumuskan permasalahan yang ada.
2. Bagi permasalahan kedalam beberapa bagian diantaranya entitas, data proses manual,
proses yang bisa dikomputerisasi, dll.
3. Buat rancangan global proses pemecahan masalah.
4. Buat alur pemecahan masalah dengan membuat Flow Chart, DFD, ERD, dll.
5. Buat struktur system global dengan algoritma.
6. Putuskan akan dibuat dengan bahasa / aplikasi pemrograman apa?
7. Kelompokkan data yang ada sehingga bisa dibuat struktur databasenya.
8. Buat program aplikasi yang dibutuhkan.
9. Evaluasi dengan user sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelebihannya.
10. Adakan perbaikan jika terdapat kekurangan.
11. Compile program sehingga dapat digunakan oleh user.
Sedangkan dalam proses pembuatan struktur pemecahan masalah dengan algoritma, kita akan lebih sering menggunakan logika sehingga menjadi suatu alur yang menyesuaikan dengan proses empiris yang ada.
Proses empiris pada algoritma dan pemrograman dapat kita bagi ke dalam 3 jenis proses, yaitu :
1. Sekuensial (Persamaan)
Proses penyederhanaan suatu persamaan menjadi suatu variable tertentu sehingga dalam proses selanjutnya kita tidak perlu mengulangi persamaan tersebut.
Contoh :
a. Barang yang ibu beli dari pasar adalah kentang
Maka bahasa algoritmanya : barang ç kentang
b. Masukkan jumlah kentang yang ibu beli
Maka bahasa algoritmanya : input (jumlah_kentang)
c. Beritahukan jumlah kentang yang ibu beli
Maka bahasa algoritmanya : output (jumlah_kentang)
d. Ibu menggabungkan kentang yang ada di rumah dengan yang baru beli
Maka bahasa algoritmanya : jumlah_total ç jumlah_1+ jumlah_2
2. Kondisional (Pengkondisian)
Proses memilah / memisahkan proses satu dengan proses lainnya yang berbeda kondisi dan perlakuan.
Contoh : a. Jika kentangnya busuk maka harus dibuang dan yang lainnya dikupas
Maka bahasa algoritmanya :
If (kentangçbusuk)
Begin
Buang_kentang
End
Else
Begin
Kupas_kentang
End
b. Setelah dikupas, jika ada kentang yang kotor maka harus dicuci dulu
Maka bahasa algoritmanya :
If (kentangçkotor)
Begin
Cuci_kentang
End
Untuk bentuk lain selain if…, if…else… dan if…elseif…else… masih ada bentuk lainnya yaitu case of…
3. Repetisi (Pengulangan)
Proses pengulangan dengan syarat sama yang diberlakukan untuk variable tertentu. Ada 3 bentuk bahasa algoritma untuk pengulangan dengan hasil yang berbeda, yaitu :
a. For … to ….
Digunakan untuk jumlah pengulangan yang telah diketahui, contoh :
Jumlah kentang yang akan dikupas diketahui adalah 20 buah, Maka bahasa algoritmanya :
For kentang=1 to 20 then
Begin
Kupas_kentang
End
b. Repeat … until …
Digunakan untuk jumlah pengulangan belum diketahui, namun kita dapat memberikan syarat atau batasan pengulangan. Namun perlu diketahui bahwa karena syarat atau batasan diberitahukan di akhir proses maka akan ada satu proses yang dilaksanakan sebelum syarat diberlakukan, contoh :
Kentang akan dikupas sampai kentang itu habis, Maka bahasa algoritmanya :
Repeat
Kupas_kentang
Until kentang_habis
Dalam contoh diatas, satu kentang akan dikupas sebelum sistem mengecek kentangnya sudah habis atau belum.
c. While …
Digunakan untuk jumlah pengulangan belum diketahui, namun kita dapat memberikan syarat atau batasan pengulangan. Namun perlu diketahui bahwa karena syarat atau batasan diberitahukan di awal proses maka system akan mengecek dulu kondisi proses sebelum proses pertama dilakukan, contoh :
Kentang akan dikupas sampai kentang itu habis, Maka bahasa algoritmanya :
While (kentang_belum_habis)
begin
Kupas_kentang
End
Dalam contoh diatas, system akan mengecek kentangnya sudah habis atau belum. Jika belum habis maka proses dilaksanakan.
Penutup
Demikian tulisan ini semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Langgan:
Entri (Atom)

